Perkembangan Anak Usia Dini

PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

A. Pengertian Psikologi Perkembangan

Psikologi perkembangan adalah salah satu cabang psikologi yang mempelajari kapan dan bagaimana perubahan yang terjadi pada manusia dari waktu ke waktu. Ahli psikologi perkembangan adalah orang yang mempelajari orang lain dari berbagai tingkatan usia dalam rangka memahami kapan dan bagaimana perubahan fisik, mental-psikologis, dan fungsi sosial itu terjadi.
Di dalam psikologi perkembangan banyak di bicarakan bahwa dasar kepribadian seseorang terbentuk pada masa anak-anak. Proses-proses perkembangan yang terjadi dalam diri seseorang anak ditambah dengan apa yang dialami dan diterima selama masa anak-anaknya secara sedikit demi sedikit memungkinkan ia tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa. Dianut anggapan bahwa pentingnya pola kepribadian dasar seseorang terbentuk pada tahun-tahun pertama kehudupan dikarenakan adanya pengalaman-pengalaman yang kurang menguntungkan yang menimpa diri seseorang anak pada masa mudanya akan memudahkan timbulnya masalah gangguan penyesuaian diri di kelak kemudian hari. Sehingga muncul aspek-aspek serta tugas-tugas yang mendasari setiap fase-fase perkembangan. Setiap fase memiliki ciri yang khas dan sifat yang khas sehingga ada tingkah laku yang dianggap sebagai tingkah laku buruk atau kurang sesuai yang sebenarnya merupakan tingkah laku masih wajar untuk fase tertentu itu. Setelah seorang anak melewati masa bayi di mana mula-mula ia tidak berdaya, dengan di kuasai dan diperolehnya kemampuan baru menyebabkan bayi ini menjadi lebih ingin mandiri. Ia tidak lagi mau di gendong dan diberi dot seperti pada waktu usia dini tetapi berusaha lari kesana kemari dan menolak makanan yang tidak disuakainya.
B. Anak usia dini
Setelalah kelahiran sampai sekitar 6 tahun, banyak terjadi perubahan yang luar biasa. Perubahan ini, misalnya; munculnya refleks-refleks yang merupakan dasar kepekaan terhadap setimulus, munculnya celoteh yang akan berkembang menjadi kemampuan berkomunikasi.
Adapun usia setelah itu (lebih dari 6 tahun) sering disebut sebagai usia sekolah di mana anak sudah berkembang fisiknya sehingga membentuk tubuh yang proporsional, mampu berjalan, meloncat, berlari, mampu memegang pensil dengan baik, mampu berkomunikasi dengan orang lain memggunakan bahasa verbal, mampu memahami emosi yang di rasakan oleh orang lain berdasarkan bahasa tubuh yang di tunjukan. Oleh karena itu, batasan pengertian anak usia dini adalah 0-6 tahun.
C. Aspek-aspek Perkembangan Anak Usia Dini
Usia dini pada anak kadang-kadang di sebut sebagai usia emas atau golden age. Masa-masa tersebut merupakan masa kritis di mana seorang anak membutuhkan rangsangan-rangsangan yang tepat untuk mencapai kematangan yang sempurna. Arti kritis adalah sangat memengaruhi keberhasilan pada masa berikutnya. Apabila pada masa kritis ini tidak memperoleh rangsangan yang tepat pada bentuk latihan atau proses belajar maka di perkirakan anak akan mengalami kesulitan pada masa-masa perkembangan berikutnya. Misalnya, secara fisiologis anak sudah cukup berkembnag dan mamapu berlatih berbicara namun demikian ragsangan yang di peroleh dari lingkungan sangat kurang akibatnya anak mengalami kesulitan untuk berbicara.
Usia dini juga merupakan masa yang penting sebagai landasan untuk perkembang pada masa-masa berikutnya. Menurur Freud, masa usia dini harus di beri landasan yang kuat agar terhindar dari gangguan kepribadian ataupun emosi. Lebih lanjut Freud menyatakan bahwa gangguan-gangguan yang di alami pada masa dewasa dapat di telusuri penyebabnya dengan melihat kehidupan pada masa kanak-kanaknya. Misalnya, orang yang agresif secara verbal, sering marah-marah, mengumpat, ternyata pada usia awalnya tidak memperoleh kepuasan terhadap kebutuhanya.
Erikson menambahkan bahwa anak yang tidak mengalami dan memperoleh kasih sayang serta tidak memperoleh kepuasan dari kebutuhanya akan mengalami kegagalan untuk mengembanagan rasa percaya pada orang lain.
Berbeda dengan freud dan Erikson yang lebih berorientasi pada patologis, Piaget menyatakan bahwa tahun-tahun awal perkembangan manusia merupakan saat yang tepat untuk mengenalkan berbagai konsep sederhana sebagai landasan untuk mengembangkan cara berfikir yang lebih kompleks pada tahap-tahap perkembangan berikutnya.
Beberapa Aspek-aspek Perkembangan Anak Usia Dini :
1. Aspek Perkembangan Kognitif
Tahapan Perkembangan Kognitif sesuai dengan teori Piaget adalah:
a. Tahap sensori-motor, usia 0 – 2 tahun.
Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahasa awal, waktu sekarang dan ruang yang dekat saja.
b. Tahap pra-operasional, usia 2 – 7 tahun.
Masa ini kemampuan menerima rangsangan yang terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya, walaupun pemikirannya masih statis dan belum dapat berpikir abstrak, persepsi waktu dan tempat masih terbatas.
c. Tahap konkret operasional, 7 – 11 tahun.
Pada tahap ini anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat dan membagi;
d. Tahap formal operasional, usia 11 – 15 tahun.
Pada masa ini, anak sudah mampu berfikir abstrak.
2. Aspek Perkembangan Fisik
Perkembangan motorik merupakan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot terkoordinasi (Hurlock: 1998). Keterampilan motorik anak terdiri atas keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus. Keterampilan motorik anak usia 4-5 tahun lebih banyak berkembang pada motorik kasar, setelah usia 5 tahun baru.terjadi perkembangan motorik halus.
Pada usia 4 tahun anak-anak masih suka jenis gerakan sederhana seperti berjingkrak-jingkrak, melompat, dan berlari kesana kemari, hanya demi kegiatan itu sendiri tapi mereka sudah berani mengambil resiko. Walaupun mereka sudah dapat memanjat tangga dengan satu kaki pada setiap tiang anak tangga untuk beberapa lama, mereka baru saja mulai dapat turun dengan cara yang sama.
Pada usia 5 tahun, anak-anak bahkan lebih berani mengambil resiko dibandingkan ketika mereka berusia 4 tahun. Mereka lebih percaya diri melakukan ketangkasan yang mengerikan seperti memanjat suatu obyek, berlari kencang dan suka berlomba dengan teman sebayanya bahkan orangtuanya (Santrock,1995: 225).
3. Aspek Perkembangan Bahasa
Hart & Risley (Morrow, 1993) mengatakan umur 2 tahun, anak-anak memproduksi rata-rata dari 338 ucapan yang dapat dimengerti dalam setiap jam, cakupan lebih luas adalah antara rentangan 42 sampai 672. 2 tahun lebih tua anak-anak dapat mengunakan kira-kira 134 kata-kata pada jam yang berbeda, dengan rentangan 18 untuk 286. Pada masa ini pula terjadi permulaan dari perkembangan berbicara (bicara sebagai aspek penting komunikasi dan alat berpikir). Masa ini di katakan juga sebagai fase pra-bicara. Membaca dan menulis merupakan bagian dari belajar bahasa. Untuk bisa membaca dan menulis, anak perlu mengenal beberapa kata dan beranjak memahami kalimat. Dengan membaca anak juga semakin banyak menambah kosakata. Anak dapat belajar bahasa melalaui membaca buku cerita dengan nyaring. Hal ini dilakukan untuk mengajarkan anak tentang bunyi bahasa.

Ada 4 tugas yang perlu di perhatikan pengembanganya yakni:
1. Mengerti pembicaraan orang lain
2. Menyusun dan menambah perbendaharaan kata
3. Mengabungkan kata menjadi kalimat
4. Mengucap yang baik dan benar.
Di dalam segi berfikir pada usia 2 – 6 tahun, anak berada pada tahap pra-operasional dan egosentaris. Dengan bertambahnya usia, egosentarisme akan berkurang dan ditambah dengan kefasihan berbicara, anak makin lama makin mampu menggunakan simbol-simbol. Kemampuan ini di perlukan karena pada usia ini anak mulai di perkenalkan dengan dunia baru, yakni dunia pendidikan formal. Anak harus belajar menyesuaikan diri dengan peraturan dan disiplin sekolah serta program-program dalam berbagai bidang pengembangan.
4. Aspek Perkembangan Sosio-Emosional
Masa TK merupakan masa kanak-kanak awal. Pola perilaku sosial yang terlihat pada masa kanak-kanak awal, seperti yang diungkap oleh Hurlock (1998:252) yaitu: kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan.
Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan Old, 2008:370 seorang ahli psikoanalisis mengidentifikasi perkembangan sosial anak:
Tahap 1: Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.
Dalam tahap ini bila dalam merespon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenagkan akan tumbuh rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga. Masa bayi dihabiskan pada tahun pertama sedanga masa kanak-anak dihabiskan pada tahun kedua.
Pada masa pertumbuhanitu diartikan sebagai masa bertambahnya jumlah sel dan bertambahnya ukuran sel, atau bahasa sederhananya adalah tubuh bertambah besar secara keseluruhan. Sementara, perkembangan berupa interaksi kematangan susunan saraf organ yang dipengaruhinya. Pada masa perkembangan inilah, masa bertambahnya kemampuan dan keterampilan mereka. Orangtua perlu memperhatikan sejumlah perkembangan motor halus dan motor kasar, serta sosialisasi dan bahasa balita dalam periode keemasan mereka. Gerak-gerak anak, sepertimenyusun menara kubus adalah salah satu gejala perkembangan motor halusnya.
Orang tua juga diminta jangan sampai melewatkan perkemban motor kasar seperti, berjalan, berlari, dan melompat. Biasanya, pada usia dua tahun, gerakan-gerakantersebut mulai ditampakkan. Kecerdasan anak pada periode emas tidak hanya sampai di situ.Ada pula yang diistilahkan perkembangan sosialisasi. Dalam hal ini, menyangkut kemampuan balita untuk tersenyum dan menirukan kegiatan. Satu perkembangan penting lainnya adalah kemampuan berbicara dan menunjuk . Melalui pancaindra dan organ-organ tubuh lainya ia berusaha “mengerti” dunia luar. Mula-mula bayi menjelajahi lingkungan dengan mata, kemudian dengan mulut, gigi, tangan dan jari-jari. Tak jarang terlihat bayi memasukan jari-jari tangan dan benda lain ke dalam mulut, menggigit, menghisap dan melepaskanya kembali. Dengan kemampuan menjangkau dan mengapai benda yang menjadi objek rasa ingin taunya ia mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru ( dengan cara memeinkan, menggegam, menjatuhkan, melempar dan sebagainya). Demikianlah perbuatan itu di lakukan berulang-ulang tanpa bayi bosan. Dan dengan melalui pengalaman sensori-motor inilah bayi mulai belajar berfikir sehinga terjadi perubahan badan dan pertumbuhan otak yang dramatis, mendukung terjadinya saling berhubungan antara kemampuan gerak, persepsi, kapasitas kecerdasan, bahasa dan terjadi untuk pertama kali berinteraksi secara akrab dengan orang lain.
Perkembangan emosi dan sosial pada masa ini mula-mula emosi tenang atau senang dan terangsang (excited) timbul sehubungan dengan rangsangan fisik (misalnya bayi kenyang dan merasa nyaman nampak tubuh megendor, tidur nyeyak, berceloteh, dan tertawa). Pada kira-kira bulan ke 3 emosi senang dan tidak senang muncul karena rangsangan psikis (misalnya bayi tersenyum kalau melihat wajah manusia). Pada bulan-bulan selanjutnya variasi emosi muncul (misalnya emosi takut, marah, kecewa, benci dan sebagainya). Dalam masa ini bayi memperlihatkan respons emosional tertentu, dan si bayi itu memperoleh reaksi balasan dari orang lain, dan hadirnya orang lain ini nerupakan faktor yang sangat penting. Masa bayi di pandang sebagai fase di mana bayi pertama kali menjalin keterkaitan dirinya dengan orang lain.
Setelah umur 18 bulan, di mana ia telah berhasil menguasai bermacam kemampuan motorik dan mental, mulailah bayi menginjak tahap di mana ada kebutuhan untuk rasa otonomi, kebangaan akan prestasi-prestasinya dan ingin melakukan sesuatu sendiri. pengalaman ini membutuhkan kerjasama dengan orang lain khususnya orangtuannya. Bila orangtua tidak memahami kebutuhan ini, misalnya mereka kurang sabar atau terlalu membantu anak, timbulah ketegangan dan perasaan gagal pada diri anak, hal mana kemudian akan memupuk timbulnya rasa ragu dan malu (menurut teori perkembangan psikologi dari erikson: pada saat ini terjadi masa krisis antara otonomi lawan ragu-ragu atau malu).
(2) Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (mandirivs ragu), usia 2-3
tahun.
Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya. Anak pada masa ini bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya dapat meimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu.
(3) Tahap 3 : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.
Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan ber interaksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah.
(4) Tahap 4 : industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri),
usia 6 tahun – pubertas.
Anak telah dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri. Banyak ahli menggangap masa ini sebagai masa tenang atau masa latent, di mana apa yang telah terjadi dan di pupuk pada masa-masa sebelumnya akan berlangsung terus untuk masa-masa selanjutnya.Tahap usia ini di sebut juga sebagai usia kelompok ( gangage), di mana anak mulai mengalihkan perhatian dan hubungan intim dalam keluarga ke kerjasama antar teman dan sikap-sikap terhadap kerja atau belajar.
Dengan memasuki S.D. salah satu hal penting yang perlu di miliki anak adalah kematangan sekolah, tidak saja meliputi kecerdasan dan keterampilan motorik, bahasa, tetapi juga hal lain seperti dapat menerima otoritas tokoh lain di luar orangtuanya, kesadaran akan tugas, patuh pada peraturan dan dapat mengendalikan emolsi-emosinya. Pada masa anak sekolah ini, anak-anak membandingkan dirinya dengan teman-temannya di mana di mana ia mudah sekali dihinggapi ketakutan akan kegagalan dan ejekan teman. Bila masa ini ia sering gagal dan merasa cemas, akan tumbuh rasa rengah diri, sebaliknya bila ia tahu tentang bagaimana dan apa yang perlu dikerjakan dalam menghadapi tuntutan masyarakatnya dan ia berhasil mengatasi masalah dalam hubungan teman dan prestasi sekolahnya, akan timbul motifasi yang tinggi terhadap karya sehingga dengan lain perkataan terpupuklah “industry”.
Di dalam segi emosianya, nampak pada usia ini anak mulai belajar mengendalikan reaksi emosinya dengan berbagai cara atau tindakan yang dapat di terima lingkunganya (misal mereka tidak lagi menjerit-jerit dan berguling kalau keinginanya tidak di penuhi karena reaksi semacam ini di anggap seperti “anak kecil”).
D. Tugas Perkembangan Anak Usia Dini
Kriteria yang di gunakan untuk menentukan tugas-tugas perkembangan bersumber pada tiga hal, yaitu kematangan fisk, tuntutan masyarakat, serta norma pribadi.
Adapun tugas-tugas perkembangan anak usia dini (0-6 tahun) adalah sebagai berikut (Gunarsa,1982):
1. Berjalan
2. Belajar memakan makanan keras
3. Belajar berbicara
4. Belajar untuk mengatur gerak-gerik tubuh
5. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin dengan ciri-cirinya
6. Mencapai stabilitas fisiologis
7. Membentuk konsep sederhana tentang realitas sosial dan fisik
8. Belajar melibatkan diri secara emosional dengan orang tua, saudara, maupun orang lain
9. Belajar membentuk konsep tentang benar salah sebagai landasan membentuk nurani.

makalah mahasiswa

MAKALAH
PERKEMBANGAN FANTASI ANAK
Disusun guna memenuhi tugas Psikologi Perkembangan
Dosen Pengampu:
Dra. Lilik Sriyanti, M.Si

Disusun Oleh:
Indah Rahmawati ( 111-13-12)
Tarbiyah
Pendidikan Agama Islam

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN ) SALATIGA
Jl. Tentara Pelajar No. 2 Salatiga Kode Pos 50721
2014


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perkembangan anak adalah bertambahnya kemampuan atau skill dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan. Perkembangan tersebut menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem yang berkembang sedemikian rupa serta perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Biasanya perkembangan anak diikuti dengan pertumbuhan sehingga lebih optimal dan tergantung pada potensi yang dimiliki oleh anak. Potensi tersebut merupakan hasil interaksi bebagai faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor genetik, lingkungan sosial dan perilaku.
Kata perkembangan berasal dari biologi, kemudian pada abad ke-20 kata perkembangan dipergunakan dalam psikologi. Karena penggunaannya pertama-tama dalam biologi, pada masa berikutnya ada ahli-ahli yang menyebut pertumbuhan di samping kata perkembangan, bahkan ada orang yang menyebut kedua istilah itu untuk maksud yang sama.
Anak adalah makhluk sosial seperti juga orang dewasa. Anak membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya, karena anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal. Untuk mencapai taraf kemanusiaan yang normal pada anak diperlukan pengembangan-pengembangan yang bersifat imajinatif. Perkembangan imajinatif dilatarbelakangi oleh perkembangan fantasi yang dimiliki oleh anak. Dari perkembangan fantasi tersebut, anak akan mampu mengembangkan kemampuan-kemampuan yang bersifat kreatif dan imajinatif. Sehingga, nanti anak mampu mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah yang diangkat dalam makalah ini adalah :
1. Apakah yang dimaksud dengan perkembangan fantasi?
2. Apa saja jenis-jenis dari fantasi?
3. Bagaimana cara mengimplementasikan perkembangan fantasi anak?
4. Apa kelebihan dan kekurangan berfantasi?

C. TUJUAN

Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
1. Untuk memberi penjelasan tentang pengertian dari perkembangan fantasi.
2. Untuk memberi penjelasan mengenai jenis-jenis fantasi.
3. Untuk memberi penjelasan tentang cara mengemplementasi perkembangan fantasi anak.
4. Untuk memberi tahu kelebihan dan kekurangan berfantasi.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Perkembangan Fantasi

Istilah perkembangan dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup rumit dan kompleks. Secara sederhana Chaplin (2002), mendefinisikan perkembangan sebagai perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme dari lahir sampai mati, pertumbuhan perubahan dalam bentuk dan dalam intregasi dari bagian-bagian jasmaniah ke dalam bagian-bagian fungsional, dan kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari. Menurut F.J. Monks, dkk., (2008) , mendefinisikan perkembangan sebagai suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Perkembangan juga dapat diartikan sebagai proses yang kekal dan tetap menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pematangan, dan belajar.
Fantasi adalah hal yang berhubungan dengan khayalan atau dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam benak atau pikiran saja yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan kata lain fantasi adalah imajinasi. Fantasi berbeda dengan berpikir, dikatakan berpikir apabila menemukan sesuatu hal yang sudah ada tetapi belum diketahui, sementara fantasi menciptakan sesuatu yang baru. Yaitu membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan yang baru. Dengan kata lain fantasi adalah sebuah imajinasi. Fantasi sebagai kemampuan jiwa manusia dapat terjadi, sebagai berikut :
1. Secara disadari, yaitu apabila individu benar-benar menyadari akan fantasinya. Misalnya, sesorang pelukis sedang menciptakan lukisan dengan kemampuan fantasinya.
2. Secara tidak disadari, yaitu apabila individu tidak sadar telah dituntun oleh fantasinya. Keadaan semacam ini banyak dijumpai pada anak. Anak sering mengemukakan hal-hal yang bersifat fantastis, sekalipun tidak ada niat atau maksud dari anak itu untuk berdusta.

B. Macam-macam Jenis Fantasi

Fantasi pada umumnya merupakan aktivitas yang menciptakan. Tetapi walaupun demikian, sering dibedakan antara fantasi yang menciptakan dan fantasi yang dipimpin. Fantasi yang menciptakan atau kreatif merupakan bentuk atau jenis fantasi yang menciptakan sesuatu. Fantasi jenis ini banyak dimiliki oleh seniman, desainer, juga pada anak-anak. Fantasi yang dituntun atau terpimpin, yaitu bentuk atau jenis fantasi yang dituntun oleh pihak lain. Misalnya, seseorang yang melihat film, orang ini dapat meliputi apa yang dilihatnya dan dapat berfantasi tentang keadaan atau tempat-tempat lain dengan perantara film itu. Sehingga, dengan demikian fantasinya dituntun atau dipimpin oleh film tersebut. Bila dilihat dari cara orang berfantasi, maka fantasi dapat dibedakan atas tiga jenis yaitu:
1. Fantasi yang mengabstraksi, yang cara orang berfantasi dengan mengabstraksikan beberapa bagian, sehingga ada bagian-bagian yang dihilangkan. Misalnya anak yang belum pernah melihat gurun pasir, untuk menjelaskan maka dipakailah bayangan lapangan. Bayangan lapangan ini dipakai sebagai loncatan untuk menjelaskan gurun pasir tersebut. Dalam anak berfantasi gurun pasir, banyak bagian-bagian lapangan yang diabstraksikan. Dalam berfantasi gurun pasir dibayangkan seprti lapangan yang tanpa pepohonan dan tanahnya itu bukan rumput melainkan pasir.
2. Fantasi yang mendeterminasi, yaitu cara orang berfantasi dengan mendeterminasi terlebih dahulu. Misalnya, anak belum pernah melihat harimau, yang mereka kenal adalah kucing. Jadi, kucing digunakan sebagai bahan untuk memberikan pengertian tentang harimau. Dalam bayangan seperti kucing tetapi bentuknya besar.
3. Fantasi yang mengombinasi, yaitu orang berfantasi dengan cara mengombinasikan pengertian-pengertian atau bayangan-bayangan yang ada pada individu yang bersangkutan. Misal berfantasi tentang putriduyung, yaitu kepalanya seorang wanita, tetapi badannya ikan. Jadi adanya kombinasi dari kepala manusia badan ikan. Fantasi yang mengombinasikan inilah yang banyak digunakan orang. Misalnya, ingin membuat rumah dengan mengombinasikan rumah model eropa dengan atap model minangkabau.
Fantasi yang ada pada diri seseorang itu bersifat :
1. Lelusa, bebas, tidak terikat atau liar.
2. Spontan terkadang tanpa disadari.
3. Mudah sekali berubah.
4. Bersifat menciptakan untuk sesuatu yang baru.

C. Cara Mengimplementasikan Fantasi Anak

Bermain merupakan kebahagiaan bagi anak-anak karena dengan bermain mereka bisa mengekspresikan berbagai perasaannya serta belajar bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Banyak ragam dan jenis permainan yang berkembang dari waktu ke waktu, mulai dari permainan tradisional hingga permainan berteknologi modern. Tentu saja semua itu memerlukan kontrol dan seleksi dari orang tua agar tidak membahayakan bagi perkembangan anak. Secara umum, jenis permainan anak dapat dikategorikan ke dalam 3 kelompok yaitu :
1. Permainan aktif, permainan yang biasanya melibatkan lebih dari satu orang anak. Bentuknya bisa berupa olahraga yang bermanfaat untuk mengolah kemampuan kinestetik dan lebih jauh lagi bisa memotivasi anak untuk belajar meraih keunggulan, serta belajar bertahan dalam persaingan. Bentuk permainan seperti ini secara tidak langsung juga melatih aspek kognitif anak untuk belajar mengatur dan menentukan strategi dalam meraih kemenangan, serta mengasah aspek afektif anak untuk bersikap sportif dan belajar menerima kekalahan ketika ia mengalami kegagalan.
2. Permainan pasif, permainan ini bersifat mekanis dan biasanya dilakukan tanpa teman yang nyata, bentuk konkretnya seperti bermain game di komputer. Jenis permainan ini memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah anak memiliki keterampilan tertentu yang bisa dijadikan suatu proses sehingga anak tersebut memiliki sebuah keahlian tertentu, sehingga bermanfaat untuk kehidupannya kelak. Main game di komputer biasanya membutuhkan keterampilan dan strategi yang tepat dari pemainnya. Sedangkan sisi negatifnya adalah anak akan mengalami ketergantungan yang berlebihan apabila tidak diatur dan dibatasi oleh orang tuanya. Secara mental dan psikologi, anak akan cenderung menuntut untuk selalu menjadi nomor satu, bersikap egoistis, selalu ingin berkuasa dan memegang kendali atas sesuatu baik dalam keluarga maupun ketika ia bermain dengan temannya. Dalam kondisi tertentu, ketergantungan terhadap permainan pasif bisa menghambat kreativitas anak. Anak menjadi kurang kreatif karena terbiasa dengan program yang sudah siap pakai.
3. Permainan fantasi merupakan permainan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh anak dalam dunianya. Kita mungkin sering melihat dan mendengar anak kecil berbicara sendiri ketika bermain boneka. Sebenarnya ia memiliki fantasi dan imajinasi sendiri mengenai tokoh yang dimainkannya melalui boneka tersebut. Permainan ini baik untuk kecerdasan otak kanan karena dengan sendirinya anak belajar berperan dangan berbagai karakter yang diciptakannya, merasakan sisi emosional tokoh-tokoh yang ada dalam imajinasinya, serta lambat laun akan memahami nilai baik dan buruk sebuah sikap dan sifat. Namun sebaiknya anak diberikan ruang dan waktu untuk bermain secara berimbang antara permainan aktif, pasif dan fantasi agar kecerdasan otaknya seimbang.
Ragam permainan dapat mengasah kemampuan bersosialisasi, kemampuan bernegosiasi, serta memupuk kepercayaan diri anak untuk diakui dilinkungan sosialnya. Anak juga akan menghargai dan mempercayai orang lain, sehingga timbul rasa aman dan nyaman ketika bermain.

D. Kelebihan dan Kekurangan Fantasi

a. Kelebihan fantasi
Ada beberapa kelebihan fantasi yaitu :
1. Fantasi dapat digunakan sebagai hiburan.
2. Fantasi dapat memudahkan anak dalam menerima pelajaran.
3. Fantasi dapat membentuk budi pekerti anak. Bila ia membaca atau membuat film yang baik-baik, ia terdorong untuk meniru dan berbuat seperti yang dibaca atau yang dilihatnya itu.
4. Dengan fantasi para seniman dapat menciptakan sesuatu yang baru yang dapat kita nikmati.
5. Dapat merintangi dan mengurangi kesedihan kita.

b. Kekurangan atau dampak fantasi
Selain memiliki kelebihan, dari sisi lain fantasi itu menimbulkan dampak yang tidak baik terhadap perkembangan anak, yaitu :
1. Anak sering tenggelam dalam dunia fantasinya dengan ditandai sering melamun.
2. Anak takut menghadapi kenyataan. Ia menjadi orang yang pemalu atau menjadi pembual dikalangan teman-temannya.
3. Menimbulkan fantasi yang jauh dan liar, terutama akibat fantasi tanpa pimpinan.
Dalam menanggapi masalah keberadaan dan perkembangan fantasi ada dua psikolog yang kontradiksi:
 Dr. Montessori
Beliau berpendapat bahwa fantasi anak dalam perkembangannya harus dibatasi tidak boleh dibebaskan seleluasa mungkin, sebab jika fantasi tidak dibatasi, dapat menghambat kemandirian anak-anak, jadi tidak realistis. Karena fantasinya, seorang anak dapat terlena dengan dunia khayalnya.
 Frobel
Beliau berpendapat bahwa fantasi bagi anak harus diberikan kesempatan sebebas-bebasnya, tidak perlu dibatasi perkembangannya, sebab dengan keleluasaan berfantasi seorang anak akan memperoleh kepuasan tersendiri. Dan dengan adanya kepuasan jiwa anak itu, maka ia akan tumbuh dan berkembang jiwanya secara sehat dan penuh kreativitas.
Dengan melihat dua pendapat yang berbeda itu, maka kiranya dapat diambil jalan yang paling tepat terhadap fantasi anak, Sebaiknya diberikan kesempatan atau dilatih untuk dikembangkan. Dan agar anak tidak terlalu terlena pada dunia khayal yang berlebihan, maka ada baiknya jika dalam latihan pengembangan fantasi sedikit dibatasi, tetapi tidak perlu terlalu ketat. Sehingga perkembangan fantasi anak akan tetap terkendali dan terarah.

BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN

Perkembangan anak adalah bertambahnya kemampuan atau skill dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan. Perkembangan juga dapat diartikan sebagai proses yang kekal dan tetap menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pematangan, dan belajar.
Fantasi adalah hal yang berhubungan dengan khayalan atau dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam benak atau pikiran saja yang tidak sesui dengan kenyataan. Dengan kata lain fantasi adalah imajinasi. Fantasi berbeda dengan berpikir, dikatakan berpikir apabila menemukan sesuatu hal yang sudah ada tetapi belum diketahui, sementara fantasi menciptakan sesuatu yang baru. Yaitu membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan yang baru.
Fantasi memiliki beberapa macam jenis, yaitu fantasi terpimpin dan fantasi mencipta. Dilihat dari cara berfantasi, dibagi menjadi beberapa jenis yaitu fantasi yang mengabstraksi, fantasi yan mendeterminasi, dan fantasi yang mendominasi.
Bermain merupakan kebahagiaan bagi anak-anak karena dengan bermain mereka bisa mengekspresikan berbagai perasaannya serta belajar bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Banyak ragam dan jenis permainan yang berkembang dari waktu ke waktu, mulai dari permainan tradisional hingga permainan berteknologi modern.

B. SARAN
Sebagai seorang calon guru kita semua patut mengetahui ciri-ciri dan perkembangan anak sehingga kita dapat memantau setiap pertumbuhan dan perkembangan fantasinya agar tidak terjadi kesalahan pada saat anak sudah mulai untuk mengeksplor bakat fantasi yang dimilikinya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu, Munawar Sholeh. Psikologi Perkembangan. Jakarta:PT Asdi Mahasatya. 2005.
Pakasi, Soepartinah. Anak dan Perkembangan. Jakarta: Gramedia. 1981.
Suharman, Prof. Dr. MS. Psikologi Kognitif. Surabaya: Srikandi. 2005.

ARTIKEL MAHASISWA

MAKALAH
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
Kecerdasan / Intelegensi (IQ)
Disusun guna memenuhi tugas “Psikologi perkembangan” yang diampu oleh:
Ibu Dra. Lilik Sriyanti, M.Si.

Disusun oleh:
Puji tri utami 111-13-240

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SALATIGA
2014

A. Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita mendengar orang berbicara mengenai intelegensi sebagai faktor yang menentukan berhasil tidaknya siswa di sekolah. Pengetahuan mengenai kemampuan intelektual atau intelegensi siswa akan membantu pengajar menenetukan apakah siswa mampu mengikuti pelajaran yang diberikan serta meramalkan keberhasilan atau gagalnya siswa yang bersangkutan bila telah mengikuti pengajaran yang diberikan. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa prestasi siswa tidak semata-mata ditentukan oleh tingkatan kemampuan intelektualnya.

Dalam pembahasan tentang perkembangan kognitif anak usia sekolah, masalah kecerdasan atau intelegensi mendapat banyak pehatian di kalangan psikolog. Hal ini karena intelegensi telah dianggap suatu norma yang menentukan perkembangan kemampuan dan pencapaian optimal hasil belajar anak di sekolah. Dengan mengetahui intelegensinya, seorang anak dapat dikategorikan sebagai anak yang pandai/cerdas (genius), sedang, atau bodoh(idiot).
Oleh karena itu, dalam makalah ini penyusun mencoba memaparkan beberapa hal yang terkait dengan intelegensi itu sendiri.

B. Rumusan Masalah
1. Menjelaskan definisi kecerdasan/intelegensi(IQ)?
2. Mengetahui ciri-ciri pengukuran kecerdasan/intelegensi(IQ)?
3. Menyebutkan Teori-teori kecerdasan/intelegensi(IQ)?
4. Menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi?

C. Pembahasan
1. Pengertian kecerdasan/intelegensi(IQ)
Para ahli merumuskan definisi intekegensi sebagai berikut:
a) Hebbinghaus (1897) memberi definsi intelegensi sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi.
b) Terman (1921) memberi definisi intelegensi sebagai kemampuan untuk berpikir abstrak.
c) Thorndike memberi definisi sebagai hal yang dapat dinilai dengan taraf ketidaklengkapan daripada kemungkinan-kemungkinan dalam perjuangan hidup individu.
d) Vernon (1960) merumuskan intelegensi sebagai kemampuan untuk melihat hubungan yang relevan diantara objek-objek atau gagasan-gagasan, serta kemampuan untuk menerapkan hubungan-hubungan ini kedalam situasi-situasi yang serupa.
e) Alfred Binet mengungkapkan bahwa intelegensi yaitu memahami, berpendapat, mengontrol dan mengkritik.

Kecerdasan merupakan sebuah konsep abstrak yang sulit didefinisikan secara memuaskan. Secara umum dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari tiga klasifikasi berikut:
a. Kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan, beradaptasi, dengan situasi-situasi baru atau menghadapi situasi yang sangat beragam.
b. Kemampuan untuk belajar atau kapasitas untuk menerima pendidikan.
c. Kemampuan untuk berfikir secara abstrak, menggunakan konsep-konsep abstrak dan menggunakan secara simbol-simbol dan konsep-konsep (Phares, 1988).
Dari defisi diatas, intelegensi/kecerdasan dapat di artikan sebagai kemampuan berfikir secara abstrak, memecahkan masalah menggunakan simbol-simbol verbal, dan kemampuan untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari. Belakangan, sejumlah psikolog memperluas pengertian intelegensi dengan memasukkan berbagai macam dimensi bakat(seperti bakat musik) dan keterampilan jasmani. Meskipun demikian, diskusi-diskusi tentang intelegensi masih didominasi oleh pandangan tradisional, yang telah berorientasi pada dimensi pemikiran dan pemecahan masalah, sehingga banyak standart test yang dikembangkan untuk mengukur bentuk-bentuk intelegensi(Seifert dan Huffnung, 1994).

2. Pengukuran kecerdasan/intelegensi(IQ)
Kecerdasan/intelegensi pada setiap anak tidak sama. Untuk mengukur perbedaan-berbedaan kemampuan individu tersebut, para psikolog telah mengembangkan sejumlah test intelegensi. Dalam hal ini, Alfret Binet (1857-1991), seorang dokter dan psikolog prancis, dipandang luas sebagai orang yang paling berjasa dalam mempelopori pengembangan tes intelegensi.
Berawal dari penugsannya dari kementrian Pendidikan Perancis untuk mengembangkan suatu metode yang dapat menentukan murid-murid mana yang memperoleh keuntungan dari sistem pembelajaran di sekolah umum, tahun 1904 Binet bersama mahasiswanya, Theophile Simon, mulai merancang sebuah tes intelegensi, yang diberi nama: “Chelle Matrique de I’intelegence” (Skala Pengukur Intelegensi). Tes ini dimaksudkan untuk membedakan antara anak yang dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik dan anak-anak yang tidak ampu menagkap pelajaran.
Tes intelegensi yang dirancang Binet ini berangkat dari konsep usia mental(Mental Age-MA) yang dikembangkannya. Binet menganggap anak-anak yang terbelakang secara mental akan bertingakah dan berkinerja seperti anak-anak normal yang berusia lebih muda. Ia mengembangkan norma-norma intelegensi dengan menguji 50 orang anak-anak dari usia 3 hingga 11 tahun yang tidak terbelakang secara mental. Anak-anak yang diduga terelakang secara mental juga diuji, dan performa mereka dibandingkan dengan anak-anak yang usia kronologisnya sama di dalam sampel yang normal. Perbedaan antara usia normal (MA) dengan usia kronlogis (CA)-usia sejak lahir-inilah yang digunakan sebagai ukuran intelegensi. Anak yang cerdas MA diatas CA, sedangkan anak yang bodoh memiliki MA di bawah CA.
William Stern (1871-1938), seorang psikolog Jerman, kemudian menyempurnakan tes intelegensi Binet dan mengembangkan sebuah istilah yang sangat populer hingga sekarang, yaitu Intelligence Quotient (IQ). IQ menggambarkan intelegensi sebagai rasio antara usia (MA) dan usia kronologis (CA), dengan rumus:

IQ=Max100

Angka 100 digunakan sebagai bilangan pengali supaya IQ bernilai 100 bila MA sama dengan CA. Bila MA lebih kecil dari CA, maka IQ kurang dari 100. Sebaliknya, jika MA lebih besar dari CA, maka IQ lebih dari 100. Berdasarkan hasil tes intelegensi yang disebarkan ke sejumlah besar orang, baik anak-anak maupun orang dewasa dari usia yang berbeda, ditemukan bahwa kecerdasan/intelegensi diukur dengan perkiraan distribusi normal Binet. Distribusi normal adalah simetris dengan kasus mayoritas yang berada ditengah-tengah rentang skor tertinggi dan skor terendah yanatau distribusi tampak pada kedua titik ekstrim skor. Sebaran atau distribusi intelegensi dari yang terendah sampai yang tertinggi.
Dewasa ini tes-tes itelegensi telah dipergunakan secara luas untuk menempatkan anak sekolah ke dalam kelas atau jurusan tertentu, untuk menerima mahasiswa di suatu perguruan tinggi, untuk menyeleksi calon pegawai negeri sipil, untuk memiliki individu yang akan di tempatkan pada jabatan tetentu, dan sebagainya.
Klasifikasi IQ
IQ Klasifikasi Tingkat sekolah
Diatas 139 Sangat superior Orang yang sangat pandai
120-139 Superior Dapat menyelesaikan studi di universitas tanpa banyak kesulitan
110-119 Diatas rata-rata Dapat menyelesaikan sekolah lanjutan tanpa kesulitan
90-109 Rata-rata Dapat menyelesaikan sekolah lanjutan
80-89 Dibawah rata-rata Dapat memyelesaikan sekolah dasar
70-79 Borderline Dapat mempelajari sesuatu tapi lambat
Di bawah 70 Terbelakang secara mental Tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah
SUMBER: diadaptasi dari davindoff (1988)
Adapun model-model pengukuran intelegensi dapat berupa manifestasi-manifestasi berikut :
a) Mengukur intelegensi dengan menggunakan bilangan-bilangan.
b) Mengukur efisiensi dalam penggunaan bahasa.
c) Mengukur kecepatan dalam pengamatan.
d) Mengukur pemahaman tentang hubungan-hubungan.
e) Mengukur dalam hal daya ingat .
f) Mengukur daya hayal.
Secara umum model test intelegensi memiliki dua sifat, yaitu :
a) Test intelegensi yang bersifat umum dengan memakai bahan-bahan berupa kalimat, gambar dan angka yang di gabungkan menjadi satu bentuk utuh.
b) Test intelegensi yang bersifat khusus, misalnya khusus test kalimat, khusus test gambar dan khusus test angka.
3. Teori-teori kecerdasan/intelegensi
Perdebatan di kalangan psikolog mengenai intelegensi adalah sifat dasar dari intelegensi itu, apakah intelegensi terdiri atas satu kemampuan umum atau beberapa kemampuan khusus? Dalam psikolog terdiri dari 2 kubu, yaitu:
a. Menganggap intelegensi sebagai suatu kemampuan yang merupakan satu kesatuan.
b. Menganggap bahwa intelegensi di tentukan oleh banyak kemampuan yang sering terpisah.
Charles spearman (1863-1945), orang yang berjasa mengembangkan pendekatan analisis faktor(factor analysis) misalnya, ia percaya adanya suatu faktor intelegensi umum, atau faktor “G” yang mendasari faktor-faktor khusus, atau faktor “S” dalam jumlah yang berbeda-beda.
Pandangan Spearman yang lebih menekankan pada intelegensi umum tersebut di tolak oleh Louis Thurstone (1887-1955), yang menekankan pada aspek yang terbagi-bagi dari intelegensi. hurstone menganggap bahwa intelegensi dapat di bagi menjadi sejumlah kemampuan primer. Menurut Thurstone, intelegensi umum yang di kemukakan oleh Spearman itu pada dasarnya terdiri dari 7 kemampuan primer yang dapat dibedakan dengan jelas serta dapat digali melalui test intelegensi, yaitu:
1. Pemahaman verbal (verbal comprehension)
2. Kefasihan menggunakan kata-kata (word fluency)
3. Kemampuan bilangan (numerical ability)
4. Kemampuan ruang (spatial factor)
5. Kemampuan mengingat (memory)
6. kecepatan pengamatan (perceptual speed)
7. kemampuan penalaran (reasoning) (Ferrari & Sternberg, 1998)
psikolog Howard Gadner (1983) mendukung gagasan bahwa kita tidak mempunyai satu intelegensi , tetpai malah banyak intelegensi (multiple intelligence), yang berbeda antara satu sama lain. Masing –masing intelegensi ini meliputi keterampilan kognitif yang unik, dan bahwa masing-masing ditampilkan di dalam bentuk yang berlebihan pada orang-orang berbakat dan idiot(orang-orang yang secara mental terbelakang tetapi memiliki keterampilan yang sulit dipercaya dalam bdang tertentu, seperti melukis, musik, atau berhitung).
Aspek Intelegensi Gardner
Intelegensi kemampuan
Logical-Mathematical Kepekaan dan kemampuan mengamati pola-pola logis dan bilangan, serta kemampuan berpikir kogis.
Linguistic
Kepekaan terhadap suara, ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa.
Musical
Kemampuan menghasilkan dan mengekspresiakan ritme, nada, dan bentuk-bentuk ekspresi music.
Spatial Kemampuan mempersepsi dunia-visual secara akurat dan melakukan transformasi persepsi tersebut.
Bodily Kinesthetic Kemampuan mengontrol gerakan tubuh dan menangani objek-objek secara terampil.
Interpersonal Kemampuan mengamati dan merespon suasana hati, temperamen, dan motivasi orang lain.
Intrapersonal
kemampuan memahami perasaan, kekuatan, dan kelemahan intelegensi sendiri.
SUMBER: diadaptasi dari Gardner (1983)

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intelegensi
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi intelegensi individu menurut Bayley yaitu :
a) Keturunan, studi korelasi nilai-nilai test intelegensi diantara anak dan orangtuaatau dengan kakek neneknya, menunjukkan adanya pengaruh faktor keturunan terhadap tingkat kemampuan mental seseorang sampai kepada tingkat tertentu.
b) Latar belakang sosial ekonomi ; pendapatan keluarga, pekerjaan orang tua dan faktor-faktor sosial ekonomi lainnya, berkorelasi positif dan cukup tinggi dengan taraf kecerdasan individu mulai usia 3 tahun sampai remaja.
c) Lingkungan hidup : lingkungan yang baik akan menghasilkan intelegensi yang baik, sedang lingkungan yang kurang baik akan menghasilkan intelegensi yang kurang baik pula.
d) Kondisi fisik : keadaan gizi yang kurang baik, kesehatan yang buruk, perkembangan fisik yang lambat, menyebabkan tingkat kemampuan mental yang rendah
e) Iklim emosi dimana individu dibesarkan mempengaruhi perkembangan mental individu yang bersangkutan.
Disisi lain, faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi lainnya digambarkan oleh Spearman sebagai berikut :
a) Faktor umum / general faktor
b) Faktor-faktor khusus / spesial faktor
Kemudian, oleh Burt ditambah satu faktor lagi yang menurut pendiriannya faktor tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap intelegensi individu yaitu, faktor grup / kelompok.

Penutup
Keceradasan seorang anak, tidaklah dapat diukur dengan melihat dari satu sisi saja, melainkan ada beberapa kemampuan / intelegensi yang harus di perhatikan, antara lain kemampuan anak dalam memahami, berpendapat, mengontrol dan mengkritik berbagai hal yang kemudian akan menunjang perkembangan intelektualitasnya sebagai manusia.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan intelegensi, diantaranya yaitu keturunan, latar belakang sosial ekonomi, lingkungan hidup, kondisi fisik serta Iklim emosi dimana individu dibesarkan. Jadi, bukanlah hal yang mudah untuk mengukur kondisi perkembangan intelegensi dan taraf kecerdasan / intelegensi seseorang.

DAFTAR PUSTAKA
1. Prof. Dr. Hj. Samsunuwiyati Mar’at, Psikolog perkembangan (Bandun, PT. Remaja Rosdakarya, 2010)
2. Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2006)
3. Whitherington, Psikologi Pendidikan. (Jakarta, PT. Rineka Cipta, 1991)

Pentingnya stimulasi janin dalam kandungan

Memberikan stimulasi terhadap janin dalam kandungan sama pentingnya dengan memberikan pendidikan dan pengasuhan setelah anak lahir.
Ada laporan yang sangat menggembirakan bagi dunia pendidikan anak datang dari F. Rene Van de Carr, M.D. dan Marac Lhrer, Ph.D. Dalam laporan meraka disebutkan bahwa the American Association of The Advancement of spience pada tahun 1996 telah merangkum hasil penelitian sejumlah ilmuwan dalam bidang stimulasi pralahir dan bayi, antara lain sebagai berikut:
• Dr. Craig dari University of Alabama menunjukkkan bahwa program-progaram stimulasi dini meningakatakan nilai tes kecerdasan dalam pelajaran utama pada semua anak yang diteliti dari masa bayi hingga usia 15 tahun. Anak-anak tersebut mencapai kcerdasan 15-30% lebih tinggi.
• Dr. Marion Cleves Diamond dari University of california, Berkley AS melakukan eksperimen bertahun–tahun dan mendapatkan hasil yang sama berulang-ulang bahwa tikus yang diberi stimulasi tidak hanya menegambangkan pencabangan otak lebih banyak dan daerah kortikalotak yang tebal, tetapi juga lebih cerdas dan lebih terampil bersosialisasi dengan tikus-tikus lain.
• Selain itu, menurut F.Rene van de Carr, dkk. bahwa The Pranatal Enrichement Unit di Hua Cihiew General Hospital, di Bangkok Thailand , yang dipimpin Dr.C. Panthuraamphorn, telah melakukan penelitian yang sama terhadap bayi pralahir , dan hasilnya disimpaulkan bahwa bayi yang diberi stimulasi pralahir cepat mahir bicara , meniru suara , menyebutakan kata pertama , tersenhum secara spontan , mampu menoleh ke arah suara orang tuanya, lebih tanggap terhadapa musik , dan juga mengembangkan pola sosiallebih baik saat ia dewasa.
Tampaknya ada suatu masa pentinag dalam perkembangan bayi dimulai pada sekiatr usia lima lima bulan sebelum dilahirkan dan berlanjut hingga dua tahun ketika stimulasi otak dan laitihan-latihanintelektual dapat meningkatkan kemampuan bayi. Stimulasi pralahir dapa memnebatu mengembangkan orientasi dan keefktifan bayi dalam mengatasi dunia luar setelah ia lahir.

silabi ABK

SILABI
Mata Kuliah : Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Jurusan : Tarbiyah
Program Studi : PGMI
Program : Strata 1 (S-1)
Bobot : 2 sks
Kompetensi Dasar
Mahasiswa mampu memahami konsep dasar pendidikan anka berkebutuhan khusus dan menerapkannya dalam proses pembelajaran.
Indikator Kompetensi
Mahasiswa diharapkan dapat:
1. Menjelaskan kosep dasar anak berkebutuhan khusus
2. Menjelaskan faktor dan dampak
3. Menguraikan hak yang dimiliki anak berkebutuhan khusus
4. Mendeskripsikan konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus
5. Menjelaskan bentuk-bentuk layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus
6. Mengklasifikasikan anak berkebutuhan khusus
7. Menjabarkan karakteristik anak berkelainan fisik
8. Menjabarkan karakteristik anak berkelainan mental emosional
9. Menjabarkan karakteristik anak berkelainan akademik
10. Menjelaskan penanganan anak berkelainan fisik
11. Menerapkan layanan anak berkelainan mental emosional
12. Menjelaskan layanan anak berbakat
13. Menjelaskan layanan anak kesulitan belajar
14. Mengimplementasikan pemberian layanan pendidikan di sekolah dasar bagi anak berkebutuhan khusus
Topik Inti
1. Konsep dasar anak berkebutuhan khusus
2. Faktor dan dampak
3. Hak yang dimiliki anak berkebutuhan khusus
4. Konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus
5. Bentuk-bentuk layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus
6. Klasifikasi anak berkebutuhan khusus
7. Karakteristik anak berkelainan fisik
8. Karakteristik anak berkelainan mental emosional
9. Karakteristik anak berkelainan akademik
10. Penanganan anak berkelainan fisik
11. Layanan anak berkelainan mental emosional
12. Layanan anak berbakat
13. Layanan anak kesulitan belajar
14. Implementasi pemberian layanan pendidikan di sekolah dasar bagi anak berkebutuhan khusus